Sejarah UPAJIWA

Maulid

Ramadhan, 2012. Lupa tepatnya di hari ke berapa, yang pasti seusai berbuka puasa. Kami berdua, saya dan Ahmad @lp3t, bersila di bawah pohon dan di atas tikar mengantarai dua gelas kopi yang pelan tapi pasti mendingin. Tidak jauh berbeda dengan tema yang sedang kami obrolkan tentang hal di kanan-kiri kami yang juga perlahan mendingin, termasuk fakultas kami waktu itu. Ditengah dialog itu muncul pertanyaan dari saya, “yoopo yo lek misal nang Psikologi ono acara sing sopo ae iso main opo ae? Keren sawangane” (bagaimana ya seandainya di Psikologi ada acara yang siapa saja bisa main apa aja? Keren kayaknya). Ahmad pun memberi respon yang akhirnya membuat saya berpikir bahwa sepertinya ini klise. Saya pribadi awalnya merasa inferior untuk menggeser ini ke sisi realitas. Klise, karena ini semacam utopia, fana yang tak mungkin ada, hanya ada di kepala. Tapi jauh lebih dalam lagi di kepala saya ada semangat yang ingin muncul ke permukaan, semangat ingin mencari penawar atas dehidrasi fun yang kami obrolkan di malam-malam sebelumnya. Memberontak? Ya, tapi arahnya saya kira lebih positif.

Malam itu dilanjutkan secara acak di malam-malam berikutnya. Saya ciptakan dialog dengan beberapa kepala, pun Ahmad. Dimulai dari teman terdekat, lintas angkatan, tua-muda. Tidak banyak, tapi dari mulut kami berdua pertanyaan saya sampai ke telinga mereka satu per satu. Feedback-nya positif dan cukup melunturkan inferior sebelumnya. Ini terus menerus dijalankan dalam berbagai kesempatan dan momen. Sayangnya sampai pada suatu masa karena kesibukan kami berdua rencana ini pun tak sengaja mengubur dirinya sendiri masuk ke  dalam tanah. Akhirnya mati.

Napak Tilas Upajiwa: Kegagalan Mati Suri

Setelah beberapa lama rencana itu diam, akhirnya dia muncul lagi dari dalam tanah. Jauh setelah lebaran. Sekembali Irfan ‘Mamen’ @mhd_irvan dari Padang kota asalnya, pertemuan kalo ndak salah pertama setelah lama tidak bersua, saya ceritakan padanya cerita dan pertanyaan yang ditanyakan di tempat yang sama. Dan ini saatnya bilang WAW! *koprol* hehehe. Luar biasa semangatnya. Di kepala saya berpikir, “wah, ada yang kuat lagi nih passion-nya, SIKAT!”. Crew ini semakin besar, dari dua menjadi tiga. Tidak hanya pembicaraan dari mulut ke telinga yang semakin banyak di dengar orang, aksi kami juga semakin kentara. Konsep mulai dibicarakan. Nama acara, bagaimana model dan format-nya, apa saja yang bisa diakomodasi untuk ditampilkan, apa saja yang dipunya dan harus dipinjam, bagaimana eksekusi sosialisasinya, Visi, misi, dan lain-lain mulai dipikirkan. Hal itu semua banyak dibantu oleh Riggie @RiggieMahendra dan Kusem @kusem_ yang tertarik dan akhirnya membuat ini lebih serius dengan pemikiran-pemikiran mereka. Gak ngerti berapa jam, berapa siang dan malam, berapa cangkir kopi yang dihabiskan. Kami terus bicarakan konsep, diputer-puter. Debat.

Singkat cerita setelah konsep sudah cukup matang, Riggie dan saya menghubungi dekanat. Diawali dengan Wadek I (Kemahasiswaan), Pak Ilham. Kami membawa konsep dengan dua sub-konsep, road to dan hari H. Sempat ada kekhawatiran ini-itu, tapi justru kami mendapat jawaban “Gak popo, tak dukung, apik iki” (Gak papa, saya dukung, bagus kok), mulus kecuali tempat. Awalnya kami ingin mengadakan di lahan kosong dekat loket mahasiswa dan di depan fakultas, tapi ditolak karena dinilai ‘mengganggu’ beberapa aktivitas fakultas. Lalu dilanjutkan oleh Kusem dan Riggie ke Wadek II (Sarana & Prasarana), Pak Sem. Seperti sebelumnya, mulus kecuali tempat. Setidaknya gerakan ini tidak ditahan, justru didukung. Lapak diskusi kembali dibuka, sampai akhirnya dengan beberapa pertimbangan pilihan kami jatuhkan pada opsi tangga diatas PF Store 2012 untuk road to. Kami berangkat lagi dan…DISETUJUI! Namun kemudian digeser sedikit ke lantai 2 dekat Ruang Mahasiswa.

Setelah itu konsep-konsep yang disepakati mulai kami jalankan. Pertama dengan road to Upajiwa, sambil mengedarkan flyer yang didesain oleh Mira @miruy, pun logo Upajiwa. Sampai beberapa kali, lancar-lancar saja. Memang ada ini-itu yang perlu diperbaiki, tapi tak banyak. Point-nya adalah banyak anak ‘di luar kami’ yang terlibat. Sekedar menikmati dan tak sedikit yang ikut beraksi. Dunia sangat damai untuk beberapa kali saat. Tapi kemudian berubah ketika mendekati hari H kami disadarkan bahwa kami belum menemukan tempat yang klik untuk hari H. Pusing. Sempat mau batal. Sayang sekali itu tidak lama, Irfan ‘Mamen’ datang membawa kabar gembira. Dia menemukan lokasi yang menarik. Lapak kembali dibuka untuk kesekian kalinya, survey, dan DEAL! Kita pakai tangga dekat parkiran FIB sebagai stage.

*Tarik nafas panjang*. Mendekati hari H adalah saat-saat menegangkan buat saya pribadi. Banyak hantu-hantu penasaran terbang melayang-layang bergentayangan di kepala saya. Pengisi acara, rundown, MC, properti, pelaksana hari H sudah siap, tapi bagaimana dengan pelaksanaannya? Bagaimana antusiasme penonton? Sikap penghuni perumdos, apa nantinya mereka akan ‘slow-slow’ saja dengan acara yang akan lumayan berisik ini? Semua dijawab di hari H. Pelaksanaannya lancar, dan lebih dari bayangan kami dan saya pribadi, antusiasme temen-temen tidak biasa, ini LUAR ANGKASA! Rame, bahkan ‘Emak’ Bu Kun yang kami ajak untuk berjualan pun laku keras. 14 Desember 2012 menjadi sangat indah waktu itu di mata saya! Ini sedikit komentar dari temen-temen yang menyaksikan Upajiwa. Buka di tab baru biar jelas 🙂

Testimoni

Testimoni

Lebih Dekat tentang Upajiwa

Awalnya ada beberapa nama, tapi akhirnya disepakati dari usulan saya, Upajiwa. Terinspirasi dari nama jalan yang sering saya lewati menuju kantor di Sidoarjo yang akhirnya tidak sengaja saya sadari. Jalannya Upa Jiwa, jalan di depan AJBS Surabaya. Cabang kiri Jalan Raya Ngagel arah ke selatan menuju AJBS lewat Jalan Bung Tomo. Jalan yang sebenernya berbentuk L, antara Jalan Raya Ngagel ke AJBS yang di potong Jalan Bung Tomo.

Jalan Upajiwa via Map Google

Jalan Upajiwa via Map Google

Sedikit cerita, si item, motor lama kesayangan, pernah bocor PAS di jalan ini, dan bodohnya lagi ngaps saya ambil gambarnya? Stupid, tapi gak papa, jadi ada gambar lagi disini.

Plang Upajiwa

Plang Upajiwa

Lanjut! Upajiwa sendiri menurut KBBI online artinya adalah mata pencaharian, nafkah. Menurut saya acara ini bisa menjadi nafkah bagi mereka yang haus hatinya, dehidrasi fun itu tadi. Alasan temen-temen yang lain adalah ‘sudah terlalu mainstream bikin acara di Psikologi dengan nama Psycho blah blah blah’, ‘namanya cukup terdengar seni dan menarik’, kurang lebih demikian.

Model acaranya, Upajiwa adalah wadah ekspresi dan apresiasi seni keluarga besar Fakultas Psikologi UA secara simultan. Pun itu yang kami jadikan visi Upajiwa di proposal. Ekspresi? 1) Semua bisa menjadi panitia atau pengisi di dalamnya. Mahasiswa aktif, alumni, karyawan, dosen, bahkan dekanat boleh, asal tergolong Keluarga Besar Psikologi Universitas Airlangga ini. 2) Terserah mau mengisi dengan apa. Puisi, monolog, musik, fotografi, film, dance, grafiti, sulap, DJ, dan mungkin hal-hal ‘aneh’ yang ingin tampilkan. INGIN! BUKAN BISA! Gak harus handal, yang penting ingin disaksikan. Pun sejauh ini, tidak ada batasan, bebas ingin menampilkan apa saja, kecuali itu adalah SENI. Sudah. Apresiasi? Upajiwa sendiri adalah bentuk apresiasi, Upajiwa disediakan untuk menjukkan apa yang kamu ingin tunjukkan. Ditambah saya kira penontonnya memberi feedback positif, penghargaan psikologis yang tidak didapat jika ‘cuma dirimu saja yang tahu kamu bisa itu’. Simultan? Jadi Upajiwa itu schedule-less, tidak ada jadwal tetap, siapa saja yang ingin mengadakan, BISA! Kalo butuh bantuan, kami siap bantu. Arah mulanya adalah Upajiwa ingin dijadikan sebagai budaya liar dari Mahasiwa, independen dari struktur. Terus menerus. Dari Mahasiswa untuk mereka sendiri. Seingin-inginnya. Bukan Upajiwa anti struktur atau institusional. Tapi Upajiwa adalah kawah candradimuka pemerhati lingkungannya. Tidak sekedar budaya lalu yang dilakukan secara klise, dengan proporsi pemahaman yang terkesan terpaku pada level periferal tentang ‘apa itu sebenarnya’, seperti yang sudah-sudah.

Formatnya. Di Psikologi sendiri banyak acara yang sebenarnya bisa menjadi tempat penyaluran ‘kebisaan’ mahasiswa-nya dengan berbagai bentuk sistem dan pelaksanaannya. Selain yang dijelaskan di atas, Upajiwa menghadirkan konsep yang berbeda. Upajiwa tanpa seleksi, siapa saja dan bisa apa saja bisa ‘main’ apa saja, dalam batasan seni. Upajiwa diadakan tidak dengan ‘kegemerlapan’ khas sebuah acara. Sebaiknya Upajiwa digarap dengan sederhana, khas budaya Mahasiswa Psikologi yang saya amati. Waktu itu tidak ada panggung, tidak ada kursi, lighting panggung. Hanya lampu dadakan jadi lighting, tikar-tikar sebagai pengganti kursi penonton dan tangga selatan dekat parkir motor FIB yang jadi ‘panggung’. Sudut Upajiwa namanya. Setidaknya Upajiwa sudah mengajarkan bahwa acara itu tidak harus mahal dan tidak perlu banyak panitia. Tak lebih dari 200.000, dan kurang dari 50.000 yang dikeluarkan oleh masing-masing crew. Banyak-banyak memanfaatkan yang bisa, itu kuncinya. Cuma ada 6 panitia inti dan 10-15 panitia yang membantu pelaksanaan hari H (makasih buat kalian semua dari saya pribadi).

Eksekusi dan sosialisasinya. Upajiwa adalah acara yang relatif baru, mungkin ada claim bahwa konsepnya mirip dengan acara yang sudah dan pernah ada. Tapi tetap saja, Upajiwa menghadirkan ‘apa sih itu? Komunitas?’ atau semacamnya jika langsung diadakan. Jadi diputuskan untuk membuat semacam road to Upajiwa. Mukadimah namanya. Mukadimah secara leksikal adalah pembukaan. Dia mengantarkan masa untuk bertanya lebih jauh, mengenal lebih dekat, dan terlibat lebih dalam. Sesuai definisinya, Mukadimah berbentuk sounding, acara rame-rame kecil-kecilan. Dalam istilahnya Riggie, ya cuma kursi yang diletakkan lalu ada penampilan sederhana sambil kami bagikan flyer Upajiwa. Dilaksanakan sampai mendekati hari H Upajiwa, satu kali seminggu dalam hari yang berbeda agar jangkauan masanya lebih luas. Namun karena beberapa keterbatasan, mukadimah hanya diisi musik, nyanyi-nyanyi dengan iringan beberapa gitar, cajon, dimainkan bergantian. Lalu ada puisi dan monolog. Selain itu, saya buat email dan akun twitter untuk Upajiwa, dan Facebook Group sebagai sosialisasi online. Dan yang hot lagi adalah Kusem berhasil ‘menembuskan’ izin ke PMPM untuk mem-publish online flyer Upajiwa. Hasilnya adalah Upajiwa diiklankan di TV fakultas dan di website psikologi pada saat itu.

Manfaatnya, karena acara ini dilandasi oleh pancasila sila ke-3, Persatuan Indonesia. Upajiwa ingin menciptakan momen kebersamaan. Karena jujur, saya banyak mengenal angkatan yang lebih tua dan lebih muda dari saya ya karena kepanitian. Upajiwa bisa menjawab itu. Selebihnya, saya serahkan kepada kalian semua yang terlibat di dalamnya. Saya tidak mau membahas ini dalam porsi lebih, karena terlalu subyektif menurut saya.

Akhir kata, saya harap ada kami-kami yang lain. Kalian berani?

 

Sumber Referensi:
Kisah nyata
Gambar:
Koleksi pribadi
Advertisements

Comments on: "Sejarah UPAJIWA" (2)

  1. One word: AWESOME!
    Keren banget teman-teman..banget… sayang sekali aku ga bisa join dalam acara ini. Sebenernya acara ini itu jauh ke belakang kalo digali lebih dalem lagi banyak banget manfaatnya. Aku yakin setiap orang itu punya sisi seni cuma bedanya sisi itu menjadi prioritas mereka atau ga.. Bagi mereka yang mungkin malu, atau mikir macem-macem, menilai ga pantas, belum jago, UPAJIWA is their (our) home… Teruskan ya teman-teman…. Gimana-gimana itu, setiap manusia pasti pingin dihargai dan pingin oranglain tau tentang dia, ini wadahnya, ini waktunya, ini jalannya…
    Dan aku super salut sama penggagas upajiwa, ini baru namanya think globally act locally 🙂 Ga perlu muluk tapi pasti… 🙂
    “I have feelings too. I am still human. All I want is to be loved, for myself and for my talent.” (Marilyn Monroe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: