She is…

Wanna read? It’s better if you play this song while you reading 😉

OK! Start reading ;p

Maindra Fauziannisa

Titik dua bintang lebih kecil dari tiga

She is…

The one who I heard her name for the first time around 7 years ago..
The one who I met personally at the coffee shop after a few years..

The one who I became increasingly close at the part time consultant agency around 2010..
The one who covered me with her own blanket when I fall asleep on the ground at the camping trip around 2011..

The one who made my “abstrak” become “abstract” in 2014..

The one who I lost initially, until I felt nothing..
and felt different in a day before our friend’s wedding..

The one who didn’t know exactly when it started..
and also, wish it never ends.

 

Happy new year everyone! 🙂

Advertisements

…ucapkan janji, tak kan berpisah selamanya…

Lirik dan ambience dari bunyi terompet di akhir lagu itu mengantar Nova pada memorinya yang sudah ia benamkan.
Yang penting dia bahagia”, katanya dalam hati kemudian menghabiskan teh kayu manis yang sudah mulai beku.
Matahari pun meninggi dan menguatkan cahaya pagi.
Here comes the sun.

 

***

 

Hari ini adalah hari ke empat Nova di Ubud, tempat damai dimana 27 tahun lalu ia dilahirkan di bulan november dengan nama Lavana Novembria, Cahaya Terang November. Ayahnya berharap kelahiran anak sulungnya ini menjadi cahaya terang dari Tuhan di bulan november. Barang kali juga cahaya terang bagi sebelas bulan lain di tahun-tahun berikutnya, untuk siapa pun dan apa pun, termasuk untuk masalah-masalahnya sendiri dan lingkungannya.

Di Semarang Nova biasanya kembali tidur setelah waktu subuh dan terjaga lagi ketika cahaya sudah cukup kuat untuknya bersiap menuju tempat kerja. Hari ini sedikit berbeda, hari masih terlalu pekat untuk Nova terjaga. Setelah waktu subuh Nova memilih pergi ke dapur menyedu secangkir teh kayu manis dan membawanya ke selasar belakang. Nova duduk pada kursi panjang gantung terbuat dari rakitan bambu dengan bantalan duduknya yang berwarna jingga. Di depannya ada saka bambu yang di ujungnya dipasang lampu kecil sebagai penerang. Di samping kirinya diletakkan cangkir teh kayu manis yang aromanya menjalar di sekitar Nova. Aroma yang selalu ia suka. Aroma yang menenangkannya. Selain itu air muka Nova tak secerah biasanya. Abu-abu. Pun tak secerah warna bantalan kursi jingga yang ia duduki.

Sepanjang remang Nova hanya diam menatap kosong ke depan sambil mendengarkan lagu dari iPod dengan headset-nya. Kaku. Namun hatinya deras seperti hujan di pertengahan desember ini. Kepalanya berdebam seperti bunyi jatuhnya jembatan dari kapal ke dermaga. Berulang ulang. Ruangan dimana Nova berada pun seolah ikut tertunduk sedih melihat Nova yang seperti itu. Sepi.

Beberapa minggu yang lalu Nova kehilangan seseorang, tidak sebenar-benarnya hilang, namun Nova hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk lagi bertemu dengan lelaki itu. Sedikit sekali sampai mungkin tak mungkin bisa. Mungkin ruang, mungkin juga masa yang memisahkan keduanya. Tidak ada yang bisa Nova lakukan kecuali membisikkan nama lelaki itu di hatinya. Untuk mengenang, atau untuk memanggil perasaan yang dulu sering bermain-main di hatinya seperti anak kecil yang riang. Paling tidak Nova bisa tersenyum sebentar setelah melakukannya.

Setelah termangu cukup lama, Nova akhirnya percaya bahwa meskipun tubuh mereka tidak lagi bisa berdamping namun hati mereka masih berpaut satu sama lain. Itu saja. Bagi Nova, yang penting adalah orang yang disayangi dan dikaguminya itu bahagia. Liturgi paginya pada akhirnya diakhiri oleh tegukan terakhir teh kayu manisnya dan bagian akhir lagu dari Payung Teduh. “…ucapkan janji, tak kan berpisah selamanya…”, serta suasana terompet yang juga membangunkan matahari untuk memberikan terang-Nya. Kepada Nova.

sunrise

 

***

 

Di belahan dunia lain…

Laki-laki jarang serius, yang kemana-mana bawa gitar mini, dia lagi bikin lagu buat pemakamannya sendiri nanti. Dia lahir dari planet gokil dan dibidani oleh alien nguap yang setengah ngantuk. Laki-laki yang bukan cuma luar biasa, dia luar angkasa. Intelegensinya hampir nyamain Tony Blank. Woo hoooo.

Hari ini dia lagi suka main sama kucing. Mereka tiduran bareng di rumput-rumput taman kota sambil ngelihat langit. Tangannya di angkat ke atas sambil digerakin di udara. Niatnya mau ngegambar gambar yang sama kayak tattoo di hatinya. Senangnya misinya lumayan berhasil. Misi selanjutnya adalah dia pingin nulis lagu yang D.L.M.B.G.T. di tengah-tengah segitiga bermuda. Kali aja di sana dia bisa nemu kapal buat jalan-jalan ke bulan. Berangkat…

Lirik bait pertama di tulis:

Don’t worry darling
You know I’m trying

Mau dibikin kayak lagunya Beatles, genjreng-genjreng, dikasih chord. Tapi akhirnya gak jadi, ternyata kata orang galau is so two thousand thirteen cooooy. Terus dari segitiga bermuda dia naik pesawat origami ke hotspot kampus. Maunya naik kuda putih, tapi dia lupa kalau kuda gak bisa lari di atas laut, gak bisa renang, gak bisa terbang. Kuda juga gak bisa diisi bensin. Lagian bensin juga sekarang mahal kalo dari segitiga bermuda ke kampus. Ya kan?

Alkisah lelaki itu sampai dengan selamat di hotspot kampus. Dia taruh gitar mini kesayangannya. Dia buka laptop. Microsoft Office Word 2010. Terus dia mau bikin tulisan yang kasih tau orang-orang gimana gambar tattoo di hatinya tapi dalam bentuk narasi. Belum juga nulis judul, dia sudah ditawari sob-sob baiknya dari planet tetangga. Namanya John Lennon. Air putih di gelas aqua sih, tapi bukan aqua biasa. Warnanya boleh sama, tendangannya beda bung! “Angkat dulu soooooob! Ser ser wer weeerr!”. Skor gilanya pun nambah, mungkin dikuadratkan, mungkin pangkat tiga, mungkin pangkat jenderal.

Ngapain sooob?
Nulis Jooohn! Pingin jadi penulis yang populernya ngalahin Paul McCartney, atau mungkin menteri susi
Woshoshoshoshooooosh!
Mumpung lagi rompal, daripada pipis di celana, daripada nyetir sambil tidur, mending nulis yang paranoia kan ya?
Bikin sabtu ini tumpah ruah sooooob!
Angkaaaaaaattt! Tumpeee tumpeeee! Sumpeee!

Akhirnya dia mulai ngetik judul tulisannya dulu…

…NOVEMBER DI BULAN DESEMBER…

 

***

 

Di belahan dunia dan waktu yang lain lagi..

Lelaki lain lagi..

Di sebuah kamar gelap..

Jam 10 pm, mungkin..

Di kasur..

Rebahan..

Headset di kuping..

Volume full..

Bantal menutupi mata..

Supaya semakin gelap..

Dia membayangkan..

Membuat tulisan..

Tentang dirinya kemarin..

Kemarinnya lagi..

Dan kemarinnya lagi..

Yang waktu itu ingin menulis..

Tentang November..

Bagi dirinya..

Lelaki bulan desember..

Dan lelaki itu..

Saya..

By: Decky
Surabaya, 20 Desember 2014

Sudah barang lama, kacang menjadi lupa kulitnya
Ini menjadi credo yang mungkin sering terlepas dari lidah dan banal melewati kuping
Termasuk kuping Anda, mungkin.

 

Kacang. Mari kita pahami bahwa kacang adalah sesuatu ciptaan yang ingin ditutupi, dibungkus, dilindungi, dijaga dari apapun yang dapat mengganggu perkembangannya. Terus menerus, sampai saatnya nanti ia bermanfaat. Kemudian dipenciptaannya dia memohon kepada Tuhan Yang Maha Romantis, “Tuhan ciptakanlah bagiku pelindung, bukan aku tak mampu berjalan melawan derasnya arus hidup, apa lagi melawan Kehendak-Mu. Tapi di dalam tanah nanti aku takut sendiri. Aku ingin ada dua kepingan yang menemaniku.”, begitu kacang bilang. Kemudian dengan Kemurahan-Nya, Tuhan Yang Maha Romantis kemudian memutuskan penciptakan makhluk yang dapat melaksanakan peran yang dinginkan kacang, maka diciptakanlah sesuatu bernama kulit.

Lalu Tuhan Yang Maha Romantis berkata kepada kulit, “Hai kulit, ciptaanku yang mulia! Ku sampaikan padamu, setelah Ku  katakan ‘KUN!’ maka hiduplah kau dan kau kuberi satu tugas yang tidak lebih banyak dari kepinganmu. Jagalah ciptaanku bernama kacang, sampai akhirnya kau kumatikan!”, kulit-pun tidak menjawab, baginya Tuhan tentu sudah tahu tanpa ia menjawab pun apa maksudnya.

Kemudian jadilah kacang hidup dengan ditutupi dua keping kulit, kanan dan kiri. Keduanya menjadi satu bersama biji-biji kacang lain yang serupa dan hidup dalam sebuah lingkungan bernama bonggol kacang di dalam tanah. Minggu demi minggu berlalu, semua kacang berkembang sampai akhirnya manusia mencabut bonggol kacang dari tanah. Panen. Seketika manusia melihat hasil panennya dan ketika melihat lebih dekat lagi ada sebuah kacang yang tidak berkulit. Kemudian ia bertanya dalam hatinya, “Bagaimana kacang ini bisa tumbuh seperti kacang lain ketika Tuhan menghadirkannya dalam keadaan tidak sempurna? Ia tumbuh tanpa kulit!”, seru sang manusia. “Mungkin Tuhan memaksanya untuk tetap bertumbuh dan berkembang karena Tuhan tahu ia kacang tidak biasa. Mungkin.”, lanjutnya.

Sang manusia pulang membawa panennya hari ini sambil membawa pertanyaan itu dalam kepalanya. Ia bawa kemanapun ia pergi. Ke pasar, sendiri di kamar mandi, sebelum dan setelah ia tidur, sang manusia terus bertanya-tanya. “Bagaimana?”, tanyanya. Sampai akhirnya di suatu malam di tengah hujan deras yang membuat sang manusia menjebak dirinya sendiri di dalam gerobak warung kopi ia membuat dialog dengan dirinya. Pikirannya bergoyang kesana kemari, terbang kemudian tenggelam lagi, merefleksikan dengan dirinya, mencoba meraba apa maksud Tuhan dengan ini semua. Ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok sang manusia pun berpikir dengan kepala tertunduk dan sorot mata yang mungkin bagi orang lain itu terlihat sangat kosong…

Apapun itu, seharusnya tidak akan membuat kulit sedikitpun pernah ingin untuk melepas peluknya dari kacang. Kotornya tanah, laparnya makhluk di dalam sana, teriknya matahari yang menyentuh tanah atau dinginnya malam, lembabnya hujan. Apapun itu! Akan dengan ikhlas kulit terima sebagai konsekuensi firman Tuhan di awal penciptaannya. Ia biarkan tubuhnya kotor, terluka, panas atau dingin, dan basah oleh apapun asal kacang tenang dalam peluknya. Tapi ini apa?Apa kulit sudah lupa tugasnya? Atau dia tahu dengan baik tugasnya, hanya saja dia lupa dengan kacangnya?

Lamunannya terus berputar di kepalanya, sama seperti perputaran malam yang akhirnya menghentikan hujan, menghabiskan kopi dan batang demi batang rokoknya. Ia pun sadar harus pulang, karena esok akan datang fajar yang menyambutnya menyambut cita-citanya. Akhirnya ia pulang dan membujurkan tubuhnya dan menyimpulkan, “Mungkin memang kacang itu sudah lupa akan kulitnya, dan Tuhan ingin kacang yang biasa saja itu menjadi kacang yang tidak biasa-biasa saja dengan cara-Nya! Siapa tahu? Seperti halnya aku.”, katanya.

Kemudian, sebelum ia berdoa seperti malam-malam sebelumnya ia mengambil pesan bahwa hidupnya merupakan pesan-pesan Tuhan untuknya yang sebaiknya ia baca baik-baik. “My life, My Message” kata Mahatma Gandhi. Akhirnya sang manusia pun tertidur.

By: Decky
at Kandang Afrika – Surabaya, 14 April 2014

5emp47 (Sempat)

Bukan @L4¥, karena semua hal ada maksudnya..

Sempat?
Sepertiga malammu berwarna terang,
seperti musim panas khas bioma stepa?
Melintas-lintas dibalik kelopak,
manakala satu mata terkatub sedang mata yang lain dibuka.

Atau sempat?
Di waktu yang sama, kamu menjadi rumput?

Membiarkan diri melemas disapa Angin kemarin senja,
Berdansa di tengah lembayung toleransi masa.

Lagi, sempat?
Terserah caranya, entah dari Langit atau Bumi,

angin dan air akhirnya hanya mati suri,
lalu menghitung bintang dari satu sampai tak terhingga,
satu bintang setiap hari.
Kemudian dikumpulkan jadi satu
dalam suatu pelangi putih saja.

5emp47 by Decky Restyawan (Surabaya, 11 Desember 2013 – 3:25 AM)

Baik… Buruk… Benar… Salah… itu milik siapa?
Siapa yang berhak menghakimi?

Anda?
Hakim Agung?
Atau siapa?

Apakah benar = baik?
Lalu apakah salah selalu buruh?

Bukankah Tuhan menciptakan kanan dan juga kiri?
Kenapa kiri harus ada kalau kanan yang dituju?
Kenapa Anda harus menjadi kanan?
Lalu siapa yang akan mengisi kiri?

Seberapa yakin Anda bahwa menjadi kanan adalah suatu yang dituju?
Bagaimana kalau Anda ditakdirkan untuk menjadi kiri?

Saya yakin, apapun ideologi, kepercayaan Anda, apapun nama agama yang kenakan, Tuhan menciptakan dua sisi ini di dalamnya.
Ada kiri dan ada kanan, semua dalam porsinya masing-masing.

Dalam cerita layar kaca, atau semacamnya, apa bisa cerita berjalan jika semua peran adalah protagonis tanpa antagonis?

Kenapa tak coba berdiri di depan sebuah cermin, pandangi diri sekali lagi. Bayangkan untuk apa Anda diciptakan. Sebagai apa Anda dilahirkan, kanan atau kiri.

Saya adalah tomat, saya tak akan mencoba menjadi cabai. Karena bagi saya, sekali saja tomat menjadi cabai, ibu-ibu yang sedang membuat sambal akan bingung, “ini tomat kok mirip cabai. Ini tomat apa cabai?”. Masih bagus kalau saya hanya dipinggirkan, tak jadi berguna untuk ibu tersebut. Bagaimana kalau saya dibuang ke tempat sampah?

Mbuh lah cuk, mengepeh aku iki! Kesurupan setan hotspot gazebo pojok koyoke nulis ngenean. Semoga bermanfaat, lah. Kalo gak bermanfaat ya semoga Anda jadi ga nganggur kerna baca ini. Hehehe..

By: Decky
Surabaya, 14 Maret 2014 18:12 WIB di Gazebo Pojok Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Ahmad, gimana kalo kita bikin band? Akustikan, berdua. instrumennya bass-vox, gitar-vox!” :: “Siap!

Mamen, bikin band foo fighters enak mamen, tinggal cari drumer sama bassist, kamu yang nyanyi” :: “Jelasss mameenn

Gie, aku wes sinau ukulele, ayo kapan main beirut? aku wes duwe pemain akordeon” :: “Oke Mas

Ketiga rencana bikin band, kelompok musik, duo, atau apapun itu istilahnya, ketiganya berakhir pada kata: MAIN DIMANA? KAPAN?

Read the rest of this entry »

Crung-crung…crung-crung-crung… crung-crung…crung-crung-crung

Ya, ukulele! Atau sebagaian orang menyebutnya kencrung, yang akhirnya menjadikan aliran musik keroncong karena memang demikian bunyi instrumen utamanya, ukulele.

Konon ukulele ditemukan di Hawaii tahun 1879, pada waktu itu suatu perjalanan imigran Portugis dari Madeira (Azores) dan Portugal melakukan perjalanan melalui Afrika Selatan ke Hawaii antara tahun 1878 hingga 1913 sebanyak 20.000 orang, salah seorang membawa gitar kecil yang disebut Braginho di Braga (Portugal) dan menjadi alat musik populer di Hawaii dengan ukuran yang lebih kecil, mudah dibawa dengan 4 senar saja, kemudian disebut Ukulele.

Read the rest of this entry »

Akhirnya, saya posting juga di blog baru saya ini. Posting pertama di akhir tahun, hehe :p

Singkatnya Orakru adalah band dari anak-anak nakal SMPN 1 Surabaya. Kami lahir pada 22 Desember 2004, tepat di hari ibu, yang memberi kasih sayang kepada beta tak terhingga sepanjang masa :p Orakru gak berjalan mulus begitu saja, jarak pada akhirnya tidak mensolidkan kami. Di posting ini saya ingin sedikit mengingat-ingat kembang-kempis formasi awal Orakru sampai akhirnya ganti nama jadi the Tables. Berikut 7 formasi dari awal sampai detik Anda membaca ini:

Read the rest of this entry »

Tag Cloud

%d bloggers like this: