…ucapkan janji, tak kan berpisah selamanya…

Lirik dan ambience dari bunyi terompet di akhir lagu itu mengantar Nova pada memorinya yang sudah ia benamkan.
Yang penting dia bahagia”, katanya dalam hati kemudian menghabiskan teh kayu manis yang sudah mulai beku.
Matahari pun meninggi dan menguatkan cahaya pagi.
Here comes the sun.

 

***

 

Hari ini adalah hari ke empat Nova di Ubud, tempat damai dimana 27 tahun lalu ia dilahirkan di bulan november dengan nama Lavana Novembria, Cahaya Terang November. Ayahnya berharap kelahiran anak sulungnya ini menjadi cahaya terang dari Tuhan di bulan november. Barang kali juga cahaya terang bagi sebelas bulan lain di tahun-tahun berikutnya, untuk siapa pun dan apa pun, termasuk untuk masalah-masalahnya sendiri dan lingkungannya.

Di Semarang Nova biasanya kembali tidur setelah waktu subuh dan terjaga lagi ketika cahaya sudah cukup kuat untuknya bersiap menuju tempat kerja. Hari ini sedikit berbeda, hari masih terlalu pekat untuk Nova terjaga. Setelah waktu subuh Nova memilih pergi ke dapur menyedu secangkir teh kayu manis dan membawanya ke selasar belakang. Nova duduk pada kursi panjang gantung terbuat dari rakitan bambu dengan bantalan duduknya yang berwarna jingga. Di depannya ada saka bambu yang di ujungnya dipasang lampu kecil sebagai penerang. Di samping kirinya diletakkan cangkir teh kayu manis yang aromanya menjalar di sekitar Nova. Aroma yang selalu ia suka. Aroma yang menenangkannya. Selain itu air muka Nova tak secerah biasanya. Abu-abu. Pun tak secerah warna bantalan kursi jingga yang ia duduki.

Sepanjang remang Nova hanya diam menatap kosong ke depan sambil mendengarkan lagu dari iPod dengan headset-nya. Kaku. Namun hatinya deras seperti hujan di pertengahan desember ini. Kepalanya berdebam seperti bunyi jatuhnya jembatan dari kapal ke dermaga. Berulang ulang. Ruangan dimana Nova berada pun seolah ikut tertunduk sedih melihat Nova yang seperti itu. Sepi.

Beberapa minggu yang lalu Nova kehilangan seseorang, tidak sebenar-benarnya hilang, namun Nova hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk lagi bertemu dengan lelaki itu. Sedikit sekali sampai mungkin tak mungkin bisa. Mungkin ruang, mungkin juga masa yang memisahkan keduanya. Tidak ada yang bisa Nova lakukan kecuali membisikkan nama lelaki itu di hatinya. Untuk mengenang, atau untuk memanggil perasaan yang dulu sering bermain-main di hatinya seperti anak kecil yang riang. Paling tidak Nova bisa tersenyum sebentar setelah melakukannya.

Setelah termangu cukup lama, Nova akhirnya percaya bahwa meskipun tubuh mereka tidak lagi bisa berdamping namun hati mereka masih berpaut satu sama lain. Itu saja. Bagi Nova, yang penting adalah orang yang disayangi dan dikaguminya itu bahagia. Liturgi paginya pada akhirnya diakhiri oleh tegukan terakhir teh kayu manisnya dan bagian akhir lagu dari Payung Teduh. “…ucapkan janji, tak kan berpisah selamanya…”, serta suasana terompet yang juga membangunkan matahari untuk memberikan terang-Nya. Kepada Nova.

sunrise

 

***

 

Di belahan dunia lain…

Laki-laki jarang serius, yang kemana-mana bawa gitar mini, dia lagi bikin lagu buat pemakamannya sendiri nanti. Dia lahir dari planet gokil dan dibidani oleh alien nguap yang setengah ngantuk. Laki-laki yang bukan cuma luar biasa, dia luar angkasa. Intelegensinya hampir nyamain Tony Blank. Woo hoooo.

Hari ini dia lagi suka main sama kucing. Mereka tiduran bareng di rumput-rumput taman kota sambil ngelihat langit. Tangannya di angkat ke atas sambil digerakin di udara. Niatnya mau ngegambar gambar yang sama kayak tattoo di hatinya. Senangnya misinya lumayan berhasil. Misi selanjutnya adalah dia pingin nulis lagu yang D.L.M.B.G.T. di tengah-tengah segitiga bermuda. Kali aja di sana dia bisa nemu kapal buat jalan-jalan ke bulan. Berangkat…

Lirik bait pertama di tulis:

Don’t worry darling
You know I’m trying

Mau dibikin kayak lagunya Beatles, genjreng-genjreng, dikasih chord. Tapi akhirnya gak jadi, ternyata kata orang galau is so two thousand thirteen cooooy. Terus dari segitiga bermuda dia naik pesawat origami ke hotspot kampus. Maunya naik kuda putih, tapi dia lupa kalau kuda gak bisa lari di atas laut, gak bisa renang, gak bisa terbang. Kuda juga gak bisa diisi bensin. Lagian bensin juga sekarang mahal kalo dari segitiga bermuda ke kampus. Ya kan?

Alkisah lelaki itu sampai dengan selamat di hotspot kampus. Dia taruh gitar mini kesayangannya. Dia buka laptop. Microsoft Office Word 2010. Terus dia mau bikin tulisan yang kasih tau orang-orang gimana gambar tattoo di hatinya tapi dalam bentuk narasi. Belum juga nulis judul, dia sudah ditawari sob-sob baiknya dari planet tetangga. Namanya John Lennon. Air putih di gelas aqua sih, tapi bukan aqua biasa. Warnanya boleh sama, tendangannya beda bung! “Angkat dulu soooooob! Ser ser wer weeerr!”. Skor gilanya pun nambah, mungkin dikuadratkan, mungkin pangkat tiga, mungkin pangkat jenderal.

Ngapain sooob?
Nulis Jooohn! Pingin jadi penulis yang populernya ngalahin Paul McCartney, atau mungkin menteri susi
Woshoshoshoshooooosh!
Mumpung lagi rompal, daripada pipis di celana, daripada nyetir sambil tidur, mending nulis yang paranoia kan ya?
Bikin sabtu ini tumpah ruah sooooob!
Angkaaaaaaattt! Tumpeee tumpeeee! Sumpeee!

Akhirnya dia mulai ngetik judul tulisannya dulu…

…NOVEMBER DI BULAN DESEMBER…

 

***

 

Di belahan dunia dan waktu yang lain lagi..

Lelaki lain lagi..

Di sebuah kamar gelap..

Jam 10 pm, mungkin..

Di kasur..

Rebahan..

Headset di kuping..

Volume full..

Bantal menutupi mata..

Supaya semakin gelap..

Dia membayangkan..

Membuat tulisan..

Tentang dirinya kemarin..

Kemarinnya lagi..

Dan kemarinnya lagi..

Yang waktu itu ingin menulis..

Tentang November..

Bagi dirinya..

Lelaki bulan desember..

Dan lelaki itu..

Saya..

By: Decky
Surabaya, 20 Desember 2014

Advertisements

Comments on: "November di Bulan Desember" (2)

  1. Pertanyaan saya saat membaca judul dari cerita pendek di atas, “ada apa dengan bulan november?” Dan, “ada apa dengan desember?”
    Awalnya saya menduga-duga, penulis cerita ini kemungkinan adalah orang yg senang menghayati suasana, kondisi, dan rasa perputaran matahari. Atau layaknya penghayatan astrologi, mungkin; atau kalender jawa, (langkir, julungpajud dsb).

    Yang bisa saya tangkap dari semua plot cerita adalah ada kenangan-kenangan yang menyeruak keluar di bulan desember. November sebagai bulan terdekat darinya, maju paling depan diantrian hal yang terkenang, atau karena cinta melarut di antaranya. Apakah pendapat saya selaras?

    Saya mencoba menerka-nerka, kenapa penulis memilih “orang ketiga yang tahu segalanya” sebagai gaya penceritaan?
    Saya menaksir nyawa dari tiap tokoh akan lebih mengada saat menggunakan gaya orang pertama sebagai pelaku utama. Bagaimana (mas) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: