Sudah barang lama, kacang menjadi lupa kulitnya
Ini menjadi credo yang mungkin sering terlepas dari lidah dan banal melewati kuping
Termasuk kuping Anda, mungkin.

 

Kacang. Mari kita pahami bahwa kacang adalah sesuatu ciptaan yang ingin ditutupi, dibungkus, dilindungi, dijaga dari apapun yang dapat mengganggu perkembangannya. Terus menerus, sampai saatnya nanti ia bermanfaat. Kemudian dipenciptaannya dia memohon kepada Tuhan Yang Maha Romantis, “Tuhan ciptakanlah bagiku pelindung, bukan aku tak mampu berjalan melawan derasnya arus hidup, apa lagi melawan Kehendak-Mu. Tapi di dalam tanah nanti aku takut sendiri. Aku ingin ada dua kepingan yang menemaniku.”, begitu kacang bilang. Kemudian dengan Kemurahan-Nya, Tuhan Yang Maha Romantis kemudian memutuskan penciptakan makhluk yang dapat melaksanakan peran yang dinginkan kacang, maka diciptakanlah sesuatu bernama kulit.

Lalu Tuhan Yang Maha Romantis berkata kepada kulit, “Hai kulit, ciptaanku yang mulia! Ku sampaikan padamu, setelah Ku  katakan ‘KUN!’ maka hiduplah kau dan kau kuberi satu tugas yang tidak lebih banyak dari kepinganmu. Jagalah ciptaanku bernama kacang, sampai akhirnya kau kumatikan!”, kulit-pun tidak menjawab, baginya Tuhan tentu sudah tahu tanpa ia menjawab pun apa maksudnya.

Kemudian jadilah kacang hidup dengan ditutupi dua keping kulit, kanan dan kiri. Keduanya menjadi satu bersama biji-biji kacang lain yang serupa dan hidup dalam sebuah lingkungan bernama bonggol kacang di dalam tanah. Minggu demi minggu berlalu, semua kacang berkembang sampai akhirnya manusia mencabut bonggol kacang dari tanah. Panen. Seketika manusia melihat hasil panennya dan ketika melihat lebih dekat lagi ada sebuah kacang yang tidak berkulit. Kemudian ia bertanya dalam hatinya, “Bagaimana kacang ini bisa tumbuh seperti kacang lain ketika Tuhan menghadirkannya dalam keadaan tidak sempurna? Ia tumbuh tanpa kulit!”, seru sang manusia. “Mungkin Tuhan memaksanya untuk tetap bertumbuh dan berkembang karena Tuhan tahu ia kacang tidak biasa. Mungkin.”, lanjutnya.

Sang manusia pulang membawa panennya hari ini sambil membawa pertanyaan itu dalam kepalanya. Ia bawa kemanapun ia pergi. Ke pasar, sendiri di kamar mandi, sebelum dan setelah ia tidur, sang manusia terus bertanya-tanya. “Bagaimana?”, tanyanya. Sampai akhirnya di suatu malam di tengah hujan deras yang membuat sang manusia menjebak dirinya sendiri di dalam gerobak warung kopi ia membuat dialog dengan dirinya. Pikirannya bergoyang kesana kemari, terbang kemudian tenggelam lagi, merefleksikan dengan dirinya, mencoba meraba apa maksud Tuhan dengan ini semua. Ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok sang manusia pun berpikir dengan kepala tertunduk dan sorot mata yang mungkin bagi orang lain itu terlihat sangat kosong…

Apapun itu, seharusnya tidak akan membuat kulit sedikitpun pernah ingin untuk melepas peluknya dari kacang. Kotornya tanah, laparnya makhluk di dalam sana, teriknya matahari yang menyentuh tanah atau dinginnya malam, lembabnya hujan. Apapun itu! Akan dengan ikhlas kulit terima sebagai konsekuensi firman Tuhan di awal penciptaannya. Ia biarkan tubuhnya kotor, terluka, panas atau dingin, dan basah oleh apapun asal kacang tenang dalam peluknya. Tapi ini apa?Apa kulit sudah lupa tugasnya? Atau dia tahu dengan baik tugasnya, hanya saja dia lupa dengan kacangnya?

Lamunannya terus berputar di kepalanya, sama seperti perputaran malam yang akhirnya menghentikan hujan, menghabiskan kopi dan batang demi batang rokoknya. Ia pun sadar harus pulang, karena esok akan datang fajar yang menyambutnya menyambut cita-citanya. Akhirnya ia pulang dan membujurkan tubuhnya dan menyimpulkan, “Mungkin memang kacang itu sudah lupa akan kulitnya, dan Tuhan ingin kacang yang biasa saja itu menjadi kacang yang tidak biasa-biasa saja dengan cara-Nya! Siapa tahu? Seperti halnya aku.”, katanya.

Kemudian, sebelum ia berdoa seperti malam-malam sebelumnya ia mengambil pesan bahwa hidupnya merupakan pesan-pesan Tuhan untuknya yang sebaiknya ia baca baik-baik. “My life, My Message” kata Mahatma Gandhi. Akhirnya sang manusia pun tertidur.

By: Decky
at Kandang Afrika – Surabaya, 14 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: